Korban Ayam Masak Habang di Aluh Aluh Jadi 100 Orang Update Keracunan Massal di Aluh-Aluh, Empat Ambulans Diperbantukan Temuan Bayi di Semak-Semak Bikin Geger Warga Palangka Raya

Home Ekbis

Rabu, 12 Februari 2020 - 17:13 WITA

Jokowi: Impor Baja Jadi Sumber Utama Depisit Neraca Perdagangan

Amrullah - apahabar

Presiden Joko Widodosaat memimpin Rapat Terbatas dengan topik Ketersediaan Bahan Baku Bagi Industri Baja dan Besi di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (12/02). Foto-Antara/Hanni Sofia

Presiden Joko Widodosaat memimpin Rapat Terbatas dengan topik Ketersediaan Bahan Baku Bagi Industri Baja dan Besi di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (12/02). Foto-Antara/Hanni Sofia

apahabar.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan bahwa impor baja yang dilakukan selama ini menjadi salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan Indonesia.

Presiden Jokowi saat memimpin Rapat Terbatas dengan topik “Ketersediaan Bahan Baku Bagi Industri Baja dan Besi” di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (12/02), mengatakan data saat ini menunjukkan impor baja sudah masuk tiga besar dari total angka impor Indonesia.

“Ini tentu saja menjadi salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan kita, defisit transaksi berjalan kita. Apalagi baja impor tersebut kita sudah bisa produksi di dalam negeri,” kata Jokowi.

Pada kesempatan itu, rapat membahas mengenai ketersediaan bahan baku bagi industri baja dan besi.

Baca juga :  Bulog Ekspor Beras Kemasan Renceng ke Arab Pekan Depan

Sebagaimana diketahui bahwa industri baja besi merupakan salah satu industri strategis nasional yang diperlukan industri nasional untuk membangun infrastruktur.

”Oleh sebab itu utilitas pabrik baja dalam negeri sangat rendah dan industri baja dalam negeri menjadi terganggu. Ini tidak dapat kita biarkan terus,” katanya.

Kepala Negara menegaskan perlunya untuk mendorong industri baja dan besi makin kompetitif, kapasitas produksi makin optimal, sehingga perbaikan manajemen korporasi, pembaruan teknologi permesinan, terutama di BUMN industri baja terus dilakukan.

“Tapi saya kira juga itu tidak cukup. Laporan yang saya terima pengembangan industri baja dan besi terkendala bahan baku yang masih kurang,” katanya.

Baca juga :  Kunjungan Jokowi ke Canberra Tandai 70 Tahun Indonesia-Australia

Karena itu terdapat tiga hal utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri baja dan besi.

Hal pertama yakni memperbaiki ekosistem penyediaan bahan baku baja dan besi, kedua segera merealisasikan harga gas untuk industri yaitu sebesar 6 dolar AS per MMBTU, ketiga ditekankan ada perhitungan dampak dari impor baja terhadap kualitas maupun persaingan harga dengan baja hasil dari dalam negeri.

Dalam rapat tersebut, selain Presiden Jokowi yang didampingi Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, juga dihadiri sejumlah menteri terkait.(Ant)

Baca Juga: Saham China Melemah, Hong Kong Dibuka Lebih Tinggi

Baca Juga: Corona Menggila, Rupiah Malah Menguat

Editor: Aprianoor

Berita ini 3 kali dibaca

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Kemenpan RB Tinjau Mal Pelayanan Publik Barokah Kabupaten Banjar
apahabar.com

Ekbis

Jadi Gerbang Ibu Kota Negara, Hipmi Siap Kerahkan Pengusaha Bangun Kalsel
apahabar.com

Ekbis

Dibayangi Wabah Virus Corona, Rupiah Masih Melemah
apahabar.com

Ekbis

Impor Hewan Hidup dari China Resmi Dilarang, Berikut Daftarnya
apahabar.com

Ekbis

Virus Corona Berdampak pada Pengiriman “Smartphone” Global
apahabar.com

Ekbis

Harga Pertamax Turun Lagi, di Kalsel Rp 9.200/Liter
UMKM Menuju Pasar Digital

Ekbis

UMKM Menuju Pasar Digital
apahabar.com

Ekbis

Indonesia-Australia Seirama Perkuat Transportasi Udara